Sambutlah Thailand Wave

Sudah agak lama sejak saya nonton SUCKSEED, film drama komedi populer produksi Thailand. Tak dipungkiri film ini diracik dengan baik, Ide ceritanya yang unik, tidak terbayangkan sebelumnya. Alur emosi ceritanya serta cast para pemainnya, rumah produksi dari Thailand ini terlihat sungguh-sungguh total dalam mengerjakan ini. Dan setelah saya telusuri di forum tercinta ternyata sudah ada grup untuk para pecinta film-film Thailand ini. Di sana saya tahu bahwa SuckSeed ini pun bukan satu-satunya film Thailand yang rekomended, ada banyak film Thailand yang mendapat apresiasi positif dari bangsa kita. Terlihat, di sana juga membahas tentang budaya-budaya bangsa Thailand, belajar tentang bahasa sehari-harinya.

Belakangan ada hal yang lebih membuat saya terkejut, beberapa waktu lalu teman saya mengungkapkan rencananya untuk pelesir ke luar negeri : ke Singapura, Malaysia, Thailand. Mustinya sekaranglah saatnya saya bilang wow. Jelas, sekarang saatnyalah mengatakan bahwa gelombang besar dari negara-negara Asia Tenggara, atau lebih khususnya dari Thailand sudah datang! Belum reda gelombang besar dari Korea, gelombang Thailand pun perlahan memasuki wilayah NKRI. Saat ini masih hangat-hangatnya masyarakat kita mempelajari budaya Korea, dengan semangat-semangatnya meniru model rambut artis-artis Korea pujaan mereka. Tren fashion berkembang terinspirasi dari Korea. Musik-musik K-Pop semakin akrab di telinga. Remaja SMP dan SMA bercita-cita untuk menjadi boyband dan girlband. Berlomba-lomba belajar bahasa Korea, saranghae yang menjadi primadona. Semua menaruh impian untuk bisa menginjakkan kaki di Seoul. Mungkin bayi-bayi yang lahir di masa ini akan mendapat nama-nama semisal Won Bin Permana, Kim Sun Nanda, atau Park Ji Suwito dari orang tuanya.

Fenomena apakah yang sedang melanda bangsa kita ini. Apakah ini memang fase labil dari suatu bangsa yang sedang mencari jati diri? Atau ini juga terjadi di seluruh pelosok penjuru dunia. Sehingga setiap ada budaya asing yang terlihat lebih baik langsung diterima dan diapresiasi dengan baik, sementara budayanya sendiri tidak pernah diutik-utik sampai ada pihak ketiga yang mencoba untuk lebih memperhatikan, merawat dan kemudian mengaku-aku itu adalah miliknya. Barulah seluruh elemen masyarakat angkat bicara dan berlomba-lomba mempertahankannya. Lupakan sebentar tentang proses pengklaiman budaya yang kemarin sempat populer. Permasalahan Reyog Ponorogo dan beberapa tari khas daerah lainnya. Lupakan pula tentang pencaplokan pulau-pulau terluar negara kita.

Kembali lagi ke Thailand, negara tetangga kita yang semakin bersinar. Yang bisa saya tarik kesimpulan dari Thailand (mungkin beserta Korea dan Jepang) adalah mengapa budaya mereka bisa dengan mudah menginvasi negara-negara lain adalah mungkin karena mereka sangat percaya diri dengan kebudayaannya sendiri. Yap, mereka sendiri sangat mencintai budayanya, termasuk aksara, dialek, dan tradisi-tradisinya. Di setiap karya seni (contohlah film) pasti mereka menulis promosinya dengan aksara mereka sendiri, tradisi-tradisi lokal serta nama-nama pemain dan artisnya juga sangat berasa lokal. Jepang dengan anime-nya, aksara hiragana katakana dan kanji, kimono serta bunga sakuranya. Korea dengan aksara hangeul, boyband, girlband, k-pop, dan Seoulnya. Sekarang Thailand dengan pantai Phuket, aksara Thai, industri film dan teknologinya. Semuanya mempunyai kemiripan dengan sangat menjunjung tinggi kebudayaan mereka. Merawat berbagai kearifan lokal yang ditinggalkan nenek moyangnya.

Permasalahannya menjadi rumit, ketika di negara kita terlampau banyak kebudayaannya.  Di Jawa sendiri mempunyai beberapa aksara daerah, belum Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Mereka mempunyai cara penamaan bayi yang sendiri-sendiri. Budaya Jawa selalu memasukkan unsur huruf “O” di setiap bayi laki-lakinya, beda dengan budaya Sunda. Sangat berbeda, padahal ini masih dalam satu pulau. Di Sumatera lebih beragam lagi, di tanah Sumatera Utara garis keturunan berdasarkan ayah atau patrilineal. Kebalikannya, di daerah Padang garis keturunan berdasarkan ibu atau sering disebut matrilineal. Padahal satu pulau Sumatera, tetapi mempunyai kebudayaan yang sangat bertolak belakang. Terlampau banyakkah kebudayaan Indonesia ini?

Tidak!! Kesalahannya bukan terletak karena terlampau banyaknya kebudayaan kita. Itu tantangan yang mesti kita hadapi. Para founding father negara ini pun sudah membekali kita dengan konsep dasar negara Bhineka Tunggal Ika. Mereka tahu bahwa Indonesia adalah negara yang multi-kultur, dan tantangan yang paling sulit yang mesti dihadapi adalah membuat kita satu! Tetapi permasalahan di sini adalah sangat sederhana, semata-mata karena dari kita sendiri tidak mau memperhatikan apa yang kita punya. Kita tidak berani mencintai budaya sendiri. Ketika budaya Jepang, Korea, dan Thailand yang nampak lebih populer, kita memilih untuk mempelajari hal itu. Lebih bermimpi untuk bisa pergi menjelajahi luar negeri daripada menelusuri setiap jengkal tanah air sendiri. Padahal, kalau kita bisa melihat lebih dalam, akan lebih banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari begitu banyaknya kebudayaan di Indonesia. Lebih banyak tempat-tempat menawan di tanah air ini.

Sekarang duduk permasalahannya sudah sangat jelas, arus globalisasi akan semakin deras dari sini. Gelombang dari Thailand sudah masuk ke negara kita. Sebentar lagi mungkin juga akan datang lagi gelombang dari Filipina, Vietnam, atau bahkan Malaysia. Keputusannya ada pada pilihan kita sendiri, apakah kita hendak semakin mencintai budaya kita sendiri, mempelajari berbagai tradisi budayanya, menjelajahi setiap jengkal pelosok tanahnya atau malah sebaliknya? Saya kembalikan kepada saudara-saudara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s