Berani untuk Berhenti

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk berjumpa dengan kawan lama yang sekarang sedang dalam tahap persiapan menjadi imam. Banyak hal yang kami bicarakan, beberapa masalah pribadi tetapi lebih banyak mengenai masalah gereja diantaranya adalah mengenai keputusan besar dari Bapa Paus Benediktus XVI yang memilih untuk berhenti menjadi Paus. Seperti yang telah diketahui, sejarah mencatat selama Gereja Katolik berdiri belum pernah ada sekalipun Bapa Paus yang mengundurkan diri dari jabatannya, dan beliau menjadi yang pertama dalam hal ini. Sebelumnya Bapa Paus selalu berkarya sampai wafat.

Sebagai umat awam, saya juga bertanya-tanya mengenai hal ini. Banyak dugaan yang dikait-kaitkan dengan keputusan ini. Mulai dari konspirasi di Vatikan, isu-isu politik, sampai kabar Bapa Paus yang hendak menjadi mualaf. Meskipun secara resminya telah diumumkan, bahwa alasan pengunduran dirinya menjadi Paus adalah semata-mata karena faktor kesehatan. Beliau merasa sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menjalankan tugas sebagai pemimpin umat Katolik.

Berbeda dengan saya, kawan saya dengan tegas yakinkan bahwa keputusan itu adalah murni pilihan beliau sendiri. Mungkin juga telah diolah dengan sangat lama sehingga beliau sangat yakin dengan pilihannya. Katanya mungkin ada perbedaan pola pikir dan sudut pandang dari Bapa Paus Benediktus XVI dengan paus-paus yang terdahulu terkait jabatan suci itu. Sementara yang lain memaknai tugas abadi, melayani sampai mati tetapi Bapa Paus Benediktus XVI mungkin lebih memaknai di tengah tuntutan jaman yang semakin maju. Lebih realistis, dan sadar diri bahwa sekarang dirinya sudah tidak punya lagi kekuatan untuk memimpin umat Katolik sedunia. Sebuah pilihan yang berani untuk berhenti.

Yang bisa saya tangkap dari kasus ini adalah perihal keberanian untuk berhenti. Keberanian untuk melepaskan yang sudah kita punya. Keberanian untuk mengakhiri pesta yang sedang berlangsung. Meskipun dalam beberapa kasus, waktu dan keadaanlah yang akan memaksa menghentikannya untuk kita.

Beberapa orang mengatakan, bahwa bagian terberat adalah saat memulai sesuatu tetapi yang saya pelajari jauh lebih berat untuk setia kepada satu pilihan dan terus memperjuangkannya apalagi untuk berani berhenti pada suatu titik yang telah kita capai.

stop_now_start

Berhenti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s