Zeno Aji Surayasa

Pagi itu, saya belum begitu sadar setelah bangun pagi sembari melihat ada pesan pendek masuk di inbox. Isinya, “Pongki, kamu tau kalo Zeno (2012) kecelakaan?”. Dengan mata sayu saya mencoba membalas bagaimana keadaannya dan berada dimana sekarang. Tapi kenyataaan nya, pulsa saya tidak mencukupi untuk mengirimkan satu pesan lagi. Akhirnya niat tersebut saya urungkan, dan berujar dalam hati biasa lah anak muda kecelakaan. Nanti siang saja sehabis kuliah tak sempatkan menjenguknya. Lalu saya lanjutkan pagi itu dengan membaca apa kabar terbaru di Lini Masa, dan sedikit tersentak melihat update dari akun resmi himpunan :


Sontak, saya terkejut. Sekejap saya pinjam hape teman saya dan bertanya dimana dia sekarang. Balasnya, “di kamar Jenazah, Kariadi. Cepetan sini Pong”.

Terdiam.

Awal perjumpaan

Sesuai tradisi, kami mahasiswa Ilmu Kelautan Undip selalu membimbing adik angkatan yang berselang satu tahun di bawah kami. Saya, kebetulan angkatan 2010 mendapat jatah untuk membimbing dari awal sampai akhir angkatan 2012. Bagaimana sedari proses awal ospek sampai kelak ketika mereka telah dianggap dewasa dan dirasa siap untuk mengospek angkatan 2014 berikutnya, itu menjadi tanggungjawab angkatan 2010. Di masa awal ini saya masih belum mengenal siapa itu Zeno. Perjumpaan pertama kali adalah saat Pekan Olahraga yang waktu itu dilaksanakan tepat setelah Puncak Ospek.

Acaranya berlangsung di Jepara, di asrama kampus Kelautan. Dia menjadi wakil angkatannya di ajang StandUp Comedy. Angkatan kami pula yang menjadi panitia, dan secara tak sengaja saya ditumbalkan teman-teman untuk mengikuti ajang yang sama. Mendapat berita bahwa dia dari Wates -kota asal ibu saya yang hampir setiap tahun pasti saya kunjungi- saya merasa mendapat sebuah kecocokan dengannya. Tetapi pada penampilan pertamanya, saya sedikit kecewa dengannya karena dia terkesan seperti menutupi jati dirinya sebagai orang Wates, bahkan saya hampir mengira bahwa dia bukan benar-benar orang Wates. Singkat cerita, dengan memukau Zeno berhasil menjadi juara 1 dalam ajang tersebut. Seingat saya, kala itu kami belum sempat bertegur sapa, tapi dengan perjumpaan yang begitu singkat cukup memberikan kesan ada sesuatu yang istimewa padanya.

IMG_3320

Jalan Hidupnya

Perjumpaan selanjutnya adalah di Paguyuban Mahasiswa Katolik di Fakultas (di sini disebut PRMK), baru saya tahu bahwa dia juga beragama Katolik. Pribadi yang penuh semangat, penuh keceriaan. Selalu tersenyum, sedikit cengengesan tapi tetap bertanggungjawab. Mengesankan, bahwa dia selalu aktif dalam kegiatan PRMK. Pun setelah saya tahu bahwa dia juga aktif pula di kegiatan kerohanian Kristen. Dia menjadi bintang di Perayaan Natal Fakultas, lalu juga menjadi primadona ketika ada kompetisi Malam Puji Pujian yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kristen se-kampus, lalu berperan penting pula pada Perayaan Paskah Bersama Undip sebagai panitia. Hampir kesemuanya dijalaninya dengan totalitas, tanpa mengesampingkan kewajiban individunya sebagai mahasiswa baru yang sarat tugas baik dari dosen maupun dari senior. Zeno juga turut berpartisipasi dalam bangkitnya klub pencinta alam Kelautan. Akrab dengan banyak senior, banyak dosen, dan tentunya dengan rekan-rekan se-angkatannya. Pada awalnya, saya sedikit skeptis terhadapnya. Tipikal mahasiswa baru memang seperti ini, semangat menggelora pada awalnya. Tetapi lama kelamaan akan menguap dan menghilang tak berbekas di berbagai organisasi atau kegiatan lagi. Satu pandangan yang lama kelamaan terkikis seiring saya mengenalnya lebih dekat.

Menurut kesaksian teman-temannya dia adalah sumber keriuhan di tiap komunitas yang dia ikuti, selalu memberikan warna cerah, selalu membuat orang di sekitarnya tertawa minimal tersenyum. Untuk ini, saya sendiri pun mengalaminya. Paska kematiannya, banyak yang memberikan kesan terhadap pribadinya yang sebelumnya sama sekali tidak saya ketahui. Semisal, Zeno ternyata mempunyai proyek sosial bersama temannya untuk memberi makan orang-orang gila di sekitar. Haha, ide sederhana tapi benar-benar sebuah perbuatan. Tentang bagaimana dia menghargai sesamanya manusia, tentang kerja keras dan totalitas yang selalu dia bawa. Satu hal terakhir yang saya ingat tentang Zeno adalah bagaimana dia mau berusaha untuk mengumpulkan rekan-rekannya, mahasiswa Katolik sefakultas dalam rangka merevolusi PRMK yang belakangan ini seperti mati suri. Usahanya hampir berhasil.  Mungkin ini seperti halnya Musa, yang tidak pernah bisa menginjakkan kaki di tanah terjanji.

Golongan Terpilih

Meskipun hidup penuh dengan pilihan, tetapi ada beberapa hal yang mutlak tidak bisa kita pilih. Salah satunya adalah kematian. Standart hidup manusia belakangan ini, habis masanya pada usia 60-80 tahun. Beberapa habis sebelum itu, sisanya menjalani lebih dari itu. Tetapi yang selalu saya kagumi, ada satu golongan yang terdiri dari orang-orang yang menurut saya hebat yang terpilih untuk mati muda. Sebut saja Kartini (25 tahun), Soe Hok Gie (27), Chairil Anwar (27 tahun), bahkan Yesus pun mati di usia yang relatif muda (banyak yang menyebutkan 33 tahun). Dan teristimewanya lagi mereka mati saat berada di puncak karya mereka. Sedikit lancang, mungkin TUHAN berpikiran mereka sudah cukup untuk hidup di duna. TUHAN tidak ingin mereka berbuat dosa yang malah akan memperburuk apa yang telah dikaryakan. Dengan pola seperti ini, Mbah Surip pun saya masukkan ke golongan ini. Dia mati saat berada di puncak karyanya. Mesti baru sekejap muncul di muka publik. Dia dengan sekejap pula meninggalkan kita. Walaupun begitu, kita lebih bisa mengambil banyak nilai dari nya.

Zeno Aji Surayasa, tak bisa saya pungkiri mesti saya golongkan ke daftar ini. Dengan kehadirannya yang sungguh sekejap, Zeno mampu menghadirkan banyak nilai bagi kita yang mengenalnya. Totalitas, kegembiraan, peduli terhadap sesama. Menurut saya pula ini puncak karyanya, setelah sukses di POR, beraksi di Malam Puji Pujian Kampus, lalu ikut di kepanitiaan Paskah Bersama Undip, dan terakhir berhasil merevolusi kegiatan PRMK. Itu hanya rentetan acara formalnya, belum lagi bagaimana dia bisa selalu merubah suasana komunitas yang diikutinya. Selalu menghadirkan keceriaan di lingkungannya. Yak, Zeno semasa hidupnya selalu berusaha membuat kita tersenyum karena kehadirannya. Jadi jika sekarang kita masih saja bersedih atau bahkan menangis karena kepergiaannya pasti dia di atas sana bakal sangat bersedih karena apa yang telah dilakukannya ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa.

Matur sembah nuwun Zen, untuk kehadiranmu di sini. Sekarang tenang-tenanglah di sana. Oh iya, sekalian titip salam buat GUSTI yo…

Iklan

One thought on “Zeno Aji Surayasa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s