Tonton Bareng Nusantara

Ini tidak membahas tentang calon presiden yang sudah sedemikian pekatnya. Bukan pula tentang prediksi dan analisa siapa yang akan juara di ajang Piala Dunia 2014. Ini hanya akan membahas tentang kegiatan menonton, suatu aktivitas sederhana yang tanpa kita sadari mempunyai banyak makna.

ton·ton v, me·non·ton v melihat (pertunjukan, gambar hidup, dsb): kami ~ wayang kulit semalam suntuk;

Merujuk dari pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesaia, kata tonton atau menonton memang sudah dipatenkan untuk pertunjukan audiovisual baik langsung maupun rekaman. Dan yang paling terkenal diantaranya adalah televisi dan video.

Sejak dahulu kegiatan menonton seperti di atas selalu asyik jika dilakukan secara bersama. Masih ingat betul ketika saya hidup semasa SD, yang pada kurun masa itu belum banyak dijumpai CD atau DVD. Belum pula ditemukan apa yang namanya layanan internet berkecepatan tinggi untuk video streaming, ataupun gadget layar lebar. Menonton berarti duduk bersama kakak melihat kartun yang tayang setiap sore hari di kotak hitam bernama televisi. Yang lain, setelah petang bersama bapak ibu menonton sekilas apa yang terjadi pada dunia di malam hari atau sinema-sinema drama yang harus kadang harus saling sikut dengan ibu dan kakak untuk memilih tayangan yang hendak ditonton. Karena memang hanya ada satu televisi di rumah saya, dan yang kelak saya syukuri karena di sinilah saya belajar untuk mengalah dan berbagi lewat kegiatan menonton.

Ilustrasi kegiatan menonton tivi bersama
Ilustrasi kegiatan menonton tivi bersama

Seiring beranjak dewasa, dibarengi dengan teknologi yang mulai mengepung, tapi saya rasa budaya ini belum memudar. Memasuki masa SMP pun definisi menonton film bagi saya adalah ketika bersama-sama berkumpul lalu menyewa film di rental VCD kemudian menonton sambil bercengkrama di suatu tempat. Bahkan pola seperti ini juga berlaku untuk kegiatan menonton film dewasa. Menonton pada fase ini, saya seolah sudah mendapatkan  kebebasan  untuk menentukan apa yang hendak saya tonton. Bahkan saya rasa betapa hebatnya pengaruh sebuah tontonan itu bisa mempengaruhi kepribadian kita, mempengaruhi bagaimana kita mengambil sebuah keputusan, atau setidaknya mempengaruhi mood kita. Kita adalah apa yang kita tonton.

Di saat mulai di kehidupan SMA dan kuliah, dan mulai terasa gempuran teknologi. Femonena sudah mulai berubah, bapak membeli tivi satu lagi sehingga tidak perlu lagi ada perebutan untuk menonton televisi. Saya sudah punya komputer sendiri, sehingga kegiatan menonton lebih banyak terjadi di depan layar monitor (sendiri). Terlebih lagi ketika sekarang saya hidup di kontrakan, masing kamar punya laptop atau komputer sendiri dengan fasilitas internet yang kencang. Sampai pada akhirnya menonton hampir menjadi sebuah kegiatan pribadi.

Tetapi  ada satu yang tidak berubah. Satu sub-kegiatan dari menonton yang paling saya sukai. Adalah terkenal dengan sebut nobar atau nonbar. Nobar – Nonton Bareng yang setelah saya periksa ternyata nonton bukanlah kata kerja yang baku, yang seharusnya adalah Tonton. Jadi secara semena-mena saya menyebut kegiatan ini Tonbar.  Tonton Bareng ini sudah hampir mutlak dihubungkan dengan pertandingan olahraga, atau lebih cepatnya (tanpa mengkerdilkan cabang olahraga lain) sebut saja sepakbola. Meskipun saya  tidaklah bisa memainkan bola sepak tersebut, tidak terlampau hapal para pemainnya, tapi tetap menonton sepakbola menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Ilustrasi kegiatan Tonbar Bola, dokumentasi : Solopos
Ilustrasi kegiatan Tonbar Bola, dokumentasi : Solopos

Dan selanjutnya, kita ambil contoh satu olahraga sepakbola ini meskipun secara garisbesar bisa diganti yang lain.

Dari beberapa kali berkesempatan mengurus acara tonbar ini, mulai dari di halaman sekolah SMA dengan peserta teman dan bapak guru, lalu di depan rumah yang merupakan agenda RT yang tentu saja bapak dan ibu tetangga yang hadir, sampai pada semasa kuliah yang serempak adalah mahasiswa. Selalu selalu saja sama atmosfirnya. Seru penuh keceriaan, seloah kita benar benar berada di lapangan berjuang bersama para pemainnya. Dukungan atau cacian, nyanyian atau cibiran tidak tabu keluar di depan layar raksasa. Lepas emosi. Berteriak dan bergirang ketika tim kesayangannya menang atau tersenyum getir ketika jagoannya kalah. Semua larut dalam euforia pertandingan, menyingkirkan sejenak berbagai himpitan beban yang menumpuk dalam kehidupan. Mereka berpesta meski tanpa perlu harta.

Apalagi sekarang saatnya Piala Dunia 2014, ajang terbesar dari sebuah olahraga yang paling digemari sejagad raya. Semua orang berpesta, bahkan negara kita (dan saya yakin negara lain juga sama) yang tidak berpartisipasi pun melebur ke Brasil. Sebentar melupakan corat marut kampanye presiden. Dalam sebulan ini malam-malam akan terasa lebih ramai. Kumpulan manusia bakal jerat-jerit di kafe dengan atribut warna-warni. Benar-benar sebuah peristiwa kemanusiaan.

Piala Dunia 2014 di Brazil

Itu belum seberapa seandainya Indonesia masuk Piala Dunia. Sekedar pertandingan persahabatan pun, jika melibatkan Timnas Merah Putih pasti akan terasa istimewa. Kita berlomba-lomba menunjukkan rasa nasionalisme dengan cara berangkat ke stadion, menonton bareng, atau kirim dukungan dalam bentuk apa pun.  Yang tua merasa bangga bukan kepalang, yang muda merasa bertanggung jawab, yang dini bermimpi suatu hari bisa bermain di tivi. Serempak kita bernyanyi Garuda di Dadaku hingga uratnya keluar, merah putih meluap kemana-mana seolah ingin menunjukkan kepada dunia  bahwa kita cinta mati kepada Indonesia! Terbukti suatu tontonan mampu menimbulkan efek yang sedemikian besar.

Terpenting dari pada itu kegiatan tonbar ini selalu memberikan energi positif.

Tapi itu semua hanya akan dinikmati di kota, di mana energi listrik memadai, gelombang televisinya jernih. Dialami oleh sebagian masyarakat. Melulu di kafe-kafe yang memancarkan sinar proyektor berwarna-warni, kebahagian meluber. Di rumah-rumah gedung tinggi, bersama para kerabat.

Sementara jauh di pelosok sana, hidup kelompok-kelompok manusia yang terpinggirkan, terdesak oleh derasnya pembangunan kota. Yang diantaranya bahkan listrik pun belum bisa dinikmati secara penuh. Yang pening memikirkan apa yang akan dimakan esok hari. Yang tercekik utang gegara gagal panen atau musim laut yang buruk. Yang malam-malamnya ramai terlampau berisik karena paduan suara jangkrik dan kodok beradu. Yang ndak paham kalau tahun ini ada gelaran 4 tahunan sekali, Piala Dunia. Yang setelah bekerja tak ada hiburan lain selain menonton televisi yang semakin tak keruan atau radio yang semakin lirih. Alangkah indahlah negeri ini, jika sedikit saja energi positif tadi bisa dipercikkan ke sini.

Saya membayangkan sekelompok manusia yang pergi ke kampung nelayan, ke kaki gunung,  ke bantaran kali, ke bawah jembatan, atau ke perkampungan kumuh saat final Piala Dunia atau saat timnas Garuda bertanding. Mungkin berlayar ke Karimunjawa yang listriknya sehari  hanya nyala 12 jam atau ke Pulau Kemujan yang malah cuman 6 jam. Pergi pelosok Kalimantan yang bahkan belum tersentuh listrik sama sekali dan masih banyak daerah lain di Sumatera, Sulawesi, bahkan pelosok Jawa yang masih tertinggal, yang tidak bisa mengenyam kemajuan peradaban. Membayangkan mereka tersebut berinisiasi mengadakan Tonton Bareng di sana, bergotong-royong mempersiapkan peralatan dari kota, bekerja bersama masyarakat lokal menyiapkan lokasi. Sampai pada malam harinya saat pertandingan dimulai, bapak-bapak berkumpul bersama menonton pertandingan, ibu-ibu menyiapkan kacang rebus, pisang goreng, dan seteko kopi hitam. Pula anak-anak terpaku melihat layar raksasa yang jarang mereka lihat sebelumnya. Duhai betapa senang dan terhiburnya mereka di sana, pula betapa bahagianya kita yang ke sana.

Supaya mereka bisa menikmati sedikit apa yang kita rasakan juga, euforia nasionalisme masyarakat Indonesia, serta pesta sejagat manusia dunia.

Supaya kita bisa belajar kembali apa yang dinamakan berbagi dengan apa yang kita punyai kepada mereka yang membutuhkan.

Supaya mereka sejenak terhibur, sejenak beristirahat, sejenak melepaskan penat dari pada tuntutan beban sehari-hari.

Supaya kita bisa berkumpul dengan saudara-saudara kita sesama manusia.

Supaya mereka turut mencintai pula tanah air ini, merasakan keberadaanya diperhatikan.

Supaya kita bisa menjejaki tanah-tanah terpelosok di negeri ini dan semakin mencintai negeri ini.

Supaya mereka bisa bermimpi, bahwa kelak suatu hari mereka lah yang akan bermain di sana dan ditonton jutaan mata negeri ini.

Terakhir ini bukanlah sebuah inisiasi gerakan, bukan. Ini sedikit lamunan saya di kala luang, yang sudah hampir setahun yang lalu saya bahas bersama beberapa teman saya. Daripada terus busuk di otak, saya pikir lebih baik saya tulis di sini. Siapa tahu ada dari antara saudara sekalian yang berkelebihan semangat dan energi lantas yang mengamini dan melaksanakannya, tidak diperlukan ijin khusus, monggo. Atau jika ada yang kurang setuju atau hendak berdikusi, monggo.

Saya semena-mena menyebutnya, Tonton Bareng Nusantara;
terserah saudara mau menyebutnya apa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s