Bapak Polisi Militer

Kepada Bapak-Bapak Polisi Militer yang kemaren bertemu saat mengisi bensin di SPBU dan tak disangka kemudian bertemu lagi di salah satu ruas jalanan pantura.

Dengan tulisan ini, saya mohon maaf seluas-luasnya lautan kepada Bapak atas sembilan kelakuan bodoh saya yang saya lakukan tempo hari. Adalah sebagai berikut :

Yang pertama.
Saya mohon maaf karena saya menghalangi Bapak ketika mengisi bensin di SPBU.
Saya yang persis berada di antrean depan Bapak, sedikit terhenyak ketika ternyata di belakang saya ada rombongan Polisi Militer, dengan sepasang-sepasang motor gede yang antre bensin pula.
Saya mengaku, setelah mendapat bensin kemudian berhenti tidak begitu jauh dari motor gede Bapak untuk mencampur bensin yang saya beli dengan oli seperti layaknya vespa biasa.
Mungkin karena hal itu Bapak tidak leluasa untuk bergerak dengan motor gedenya.
Seandainya saya mencampur oli agak jauh dan Bapak antre satu-satu tidak dengan dua motor berjajar mungkin Bapak bisa bergerak lebih lebih leluasa, dan ceritanya bakal berbeda.
Saya benar-benar mohon maaf Bapak Polisi Militer!

Yang kedua.
Saya mohon maaf karena saya (dan orang-orang lain) yang nekat menerobos rombongan patroli Bapak ketika terjadi kemacetan di salah satu ruas pantura.
Ada pasar meluber di sana, ada pedagang yang berharap-harap cemas dari pagi dagangannya laku, ada pembeli yang ramai, dan ada pengendara motor dan mobil yang saya rasa semua kompak sepakat untuk segera cepat keluar dari keriuhan tersebut.
Tapi mungkin gegara ini saya menganggu tupoksi yang Bapak terima dari atasan, untuk mensterilkan jalan yang Bapak lalui.
Benar saya benar mohon maaf Bapak Polisi Militer!

Yang ketiga.
Saya mohon maaf karena saya tidak mendengarkan instruksi Bapak ketika di kemacetan tadi.
Bapak yang dengan lantang menginstruksikan untuk saya melewati jalur trotoar ketika terjadi kemacetan, supaya daerah segera steril lagi meskipun sungguh semrawut.
Saya tidak naik karena saya rasa itu malah melanggar aturan Pak.
Dan lebih utamanya karena Annelies memang tidak terlalu suka lewat jalan bergelombang. Terlebih saat itu saya membawa barang banyak di belakang, saya takut barang bawaan saya bergetar terlalu kencang karena ada sampel penelitian saya di sana.
Jelas di sini saya yang salah bahwasanya saya yang tidak tahu bahwa instruksi dari andalah yang paling utama, seperti ketika rekan anda yang memperbolehkan rombongan Hade masuk jalan tol.
Saya mohon maaf Bapak Polisi Militer, benar-benar!

Yang keempat.
Saya mohon maaf karena saya tidak mendengarkan instruksi Bapak lagi.
Selepas dari kemacetan di samping trotoar, saya akhirnya bisa melewati dan bertemu dengan Bapak paling depan yang saya kira adalah pemimpin rombongan yang bertugas membuka jalan.
Dengan keadaan yang masih macet, Bapak berkumis tebal tersebut menginstruksikan saya untuk segera mendahului truk di depan lewat kiri.
Tetapi yang saya lihat Annelies dan bokong semoknya tidak bisa melewati itu karena di sampingnya ada penjual-penjual pasar Pak. Saya tetap di sana beberapa saat baru setelah longgar saya berjalan.
Mohon maaf Bapak Polisi Militer, benar-benar saya!

Yang kelima.
Saya mohon maaf karena saya tidak segera mengucapkan terima kasih atas peringatan dan instruksi dari Bapak ketika selesai dari kerumunan manusia.
Alih-alih malah Bapak yang menghampiri saya sampai saya terpepet ke samping jalan.
Suatu kelancanganlah, yang tua malah menghampiri yang muda.
Bapak Polisi Militer, saya benar-benar mohon maaf.

Yang keenam.
Saya mohon maaf karena saya tidak bisa membalas sapaan Bapak satu per satu.
Giliran pertama, Bapak berkumis tebal si pembuka jalan. Menjewer keras-keras telinga kanan Annelies.
Giliran kedua, Bapak dengan motor gede di belakangnya. Menendang bokong semok Annelies dari belakang.
Giliran ketiga, Bapak dengan Motor Sport. Mengumpat dengan keras ala makian Jawa Timuran kepada saya.
Giliran keempat, Bapak yang berada di mobil. Menggerutu sambil terus memaki saya dari dalam mobil yang kacanya dibuka separuh.
Sungguh suatu kehormatan atas sapaan bertubi-tubi yang Bapak lakukan terhadap saya dan Annelies.
Tapi mohon maaf saya tidak kuasa membalas sapa-makian Bapak.
Sejujurnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih, tetapi apalah daya laju Annelies tidak sekencang motor-motor gede Bapak sekalian.
Benar Bapak Polisi Militer, saya benar mohon maaf!

Yang ketujuh.
Saya mohon maaf karena saya sudah lancang selancangnya dengan hanya bisa berteriak-teriak sambil emosi dan menantang Bapak untuk turun dari motor ketika Bapak-Bapak menyapa sampil memperlakukan Annelies saya sedemikian.
Sungguh betapa lancangnya saya, ketika Bapak masih sibuk dengan tugas mulia dari negara.
Sungguh betapa lancangnya saya, ketika saya saja sampai sekarang belum bisa membayar pajak sendiri. Saya yang tidak ikut membiayai operasional Bapak-bapak sekalian bahkan tidak turut juga dalam sumbangsih pembangunan jalan raya seharusnya memang tidak bisa protes.
Sungguh betapa lancangnya saya, yang hanya mahasiswa semester tua yang tak kunjung lulus berani berteriak tidak hormat kepada Bapak sekalian.
Bapak Polisi Militer benar, saya mohon maaf benar!

Yang kedelapan
Saya mohon maaf karena saya baru sadar kesalahan-kesalahan yang saya tuliskan di atas tersebut beberapa waktu setelah peristiwa berlangsung.
Itupun setelah saya berpikir keras, sampai-sampai harus menunda menulis pembahasan skripsi saya.
Sekarang saya paham, saya sadar bahwa saya bukanlah siapa-siapa.
Bahwa bapak-bapaklah penguasa jalanan yang sesungguhnya.
Berkuasa penuh atas militer dan sipil, atas jalan raya dan fasilitas negara.
Bahkan akan menjadi hal yang sangat tidak sopan, jika saja Bapak sekalian sampai mencium bau asap knalpot dari vespa tua seperti Annelies saya.
Maka saya akan benar-benar berhenti dan menyingkir dari jalanan ketika suatu hari kelak bertemu dengan Bapak sekalian.
Saya benar mohon benar maaf, Bapak Polisi Militer!

Yang kesembilan.
Saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya, bahwasanya saya tidak bisa dan tidak akan mohon maaf pada satu perbuatan terakhir saya ini :

Saya memutuskan untuk menurunkan hormat  saya pada Bapak-bapak sekalian (dan terpaksa) kepada unit kesatuan Bapak. Saya akan simpan hormat saya pada tempat yang rapat-rapat untuk sementara waktu yang tidak bisa ditentukan.

Saya dengan segenap kesadaran saya, saya mohon maaf untuk sikap tidak akan mohon maaf atas perbuatan terakhir yang saya buat ini.
Saya mohon Bapak Polisi Militer, benar-benar maaf!

Sekian Bapak Polisi Militer.
Harap menjadikan maklum.

 

Keterangan :
Semua yang tertulis adalah benar-benar pengalaman penulis, kecuali gambar ilustrasi yang diambil dari sini

Iklan

3 thoughts on “Bapak Polisi Militer”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s