Revolusi Kamar Mandi

Saya masih mengucek mata siang itu, setengah tak percaya dengan apa yang saya baca. Ketika mie goreng di dalam piring sudah habis, di depan layar monitor  saya membaca timeline dan mendapati kabar bahwa Semarang lolos ke dalam daftar 100 kota dengan ketahanan terbaik di seluruh dunia. Sebuah program internasional yang menguji ketahanan kota-kota untuk menghadapi permasalahan alam-sosial-lingkungan di sekitarnya. Semarang sekarang setara dengan London, Milan, New York, Los Angeles dan kota-kota yang banyak di film-film itu.

Sembari mencuci piring lantas menyeduh secangkir kopi, saya berfikir keras. Bagaimana bisa kota yang sedemikian panas-kering-riweh di wilayah atasnya dan semrawut-banjir-macet di daerah bawahnya menjadi sedemikian terhormat. Menjadi satu-satunya wakil Indonesia di ajang yang digelar Rockefeller Foundation. Kota yang miskin identitas, yang hanya ingin setara dengan tetangganya kok bisa-bisanya malah sejajar dengan kota-kota besar dunia coba?

Seharusnya masih banyak kota-kota yang lebih bermartabat dan mulia daripada Semarang yang pantas menyandang posisi ini. Jakarta, ibu kota negara yang sedemikian canggih, tegas dan disiplinnya, Bandung dengan pendekatan manusiawinya yang kreatif terhadap penataan wilayah kotanya, Surabaya yang makin kental dengan pembangunan ekologisnya, atau Jogja yang sudah sedemekian membudayanya dalam menghadapi permasalahan kota, hingga Nganjuk yang perlahan dalam diam sedang menuju metropolis namun tak dari anda semua yang tahu. Njuk’ kok iso Semarang seh?

Semakin lama saya berfikir, alih-alih jawaban yang saya dapat malahan saya teringat akan janji kepada dosen pembimbing untuk bimbingan skripsi siang setelah istirahat ini. Sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuk sekedar mandi.

Cukuplah mencuci wajah lalu menyikat gigi. Ganti baju lantas ke kampus.

***

Seperti pagi-pagi yang lain, pagi itu saya tidak mandi. Lima tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di kota Semarang sudah sedemikian membentuk paham saya bahwa tidak mandi pada pagi hari bukanlah sebuah dosa besar.

Saya ingat semasa aktif kuliah dulu, sering tidak mandi ketika ada kuliah pagi. Sekarang, ketika tidak ada kuliah pun saya tidak mandi pagi juga dengan dalih “toh hanya ngerjain skripsi di kosan, tidak pergi kemana-mana, kenapa mesti mandi”.

Dulu karena musim kemarau, saya sering tidak mandi lantaran pasokan air di kamar mandi yang kurang. Sampai ketika musim penghujan datang saya juga sering tidak mandi pagi dengan alasan cuaca di luar dingin, badan tidak berkeringat jadi ndak perlu mandi dulu lah.

Tapi bukannya saya tidak peduli kebersihan.

Saya selalu usahakan mandi sekurang-kurangnya sekali sehari. Hal ini karena saya sadari bahwa saya benar-benar butuh mandi. Lebih jauh lagi, karena saya selalu merasa ada sesuatu yang ajaib ketika saya mandi. Saya yakin sepenuh-penuhnya bahwasanya kegiatan membersihkan tubuh dengan atau tanpa sabun ini adalah ritual yang magis. Kegiatan yang sudah, sedang, dan akan dilakukan berulang kali sejak masih bayi hingga tak bernyawa lagi.

Mandi dimulai saat keluar dari rahim ibu, sesaat setelah lahir, ketika kecil dimandikan orang tuanya, lalu saat remaja yang berlama-lama mandi sambil takjub melihat berbagai perubahan tubuhnya, hingga bagi sebagian besar pasangan: mandi (siraman) menjadi salah satu syarat sahih untuk pernikahan, hingga pada akhirnya kita menjadi jenazah yang terbujur kaku: untuk terakhir kalinya kita mandi pula.

Mandi benar-benar menjadi kegiatan intim pribadi, di mana kita bisa melihat ke dalam semua jengkal tubuh, memeriksa kondisi lahir dan batin, menggosok semua, peluh, debu, dosa dan kesalahan yang telah terjadi, hingga akhirnya keluar menjadi pribadi baru yang lebih bersih, lebih segar. Sungguh, sebuah kegiatan yang tingkat kesakralannya hanya bisa dikalahkan oleh kegiatan berdoa.

Tetapi belakangan ini, mandi menghadapi tantangannya sendiri. Air yang jadi bahan utama untuk mandi sering susah didapat, air menjadi komoditas yang semakin berharga. Krisis air bersih tidak melulu terjadi di pelosok-pelosok terpencil, di gunung tinggi, atau di gurun pasir. Kota Semarang pun sudah mulai akrab dengan kekeringan, krisis air ketika kemarau. Sumur-sumur menjadi kering, air sungai tak ada lagi, tagihan PDAM menyusut drastis.

Mandi yang menjadi salah satu kebutuhan primer manusia, menempati peringkat paling atas dari penggunaan air di kehidupan rumah tangga. Jika dibiarkan terus menerus, mandi yang seharusnya membawa angin kesejukan akan berubah menjadi hulu dari bencana kekeringan yang menakutkan.

Bagaimana kita bisa tetap bersih dengan sumber daya air seminimal mungkin. Bagaimana kita tetap bertahan bersih di dalam dunia yang semakin krisis. Bagaimana kita ikut menghemat penggunaan air.

Berangkat dari beberapa pengalaman yang saya dapat dan saya pelajari,selama hidup Semarang untuk menghemat dan mengefektifkan penggunaan air  saat mandi maka saya memberanikan berbagi hal ini dengan anda: Revolusi Kamar Mandi untuk mendukung perubahan mandi ke arah yang lebih baik.

Revolusi Kamar Mandi ini terdiri dari tiga bagian yaitu :

A. RESTRUKTURISASI FISIK BANGUNAN

Hal pertama yang harus disiapkan adalah mempersiapkan infrastuktur. Tidak perlu membangun ulang kamar mandi anda, dengan merubah sedikit stuktur kamar mandipun sudah dapat mendukung revolusi kamar mandi ini.

1. Tandon

Tandon, atau tempat penampungan air yang biasanya berwarna oranye ini benar-benar berguna untuk menghemat pasokan air.  Dengan prinsip menampung air dari sumber ketika berlimpah dan secara cerdas menggunakan prinsip gravitasi untuk mengalirkannya sewaktu-waktu. Agaknya teknik ini sudah banyak diaplikasikan oleh rumah tangga di perkotaan yang menggantungkan airnya dari PDAM atau sumur-sumur internal.

2. Shower

Bukanlah sebuah ingkar terhadap kebudayaan, kalau anda hendak mengganti tradisi mandi anda. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, mandi selalu identik dengan ciduk atau gayung. Tapi berdasarkan penelitian aktifitas mandi dengan shower terbukti mampu menghemat air sampai dengan sepertiganya.

3. Atau Ganti Selang

Jika permasalahan berikutnya adalah harga shower yang mahal. Membuat shower sendiri juga bukan sesuatu yang mustahil. Shower bisa diganti dengan selang, digantungkan ke atas, dan keran dinyalakan. Dengan ini anda sekaligus bisa mengingat kembali kenangan masa kecil semasa dimandikan ibu dengan selang.

4. Perkecil Bak Mandi

Seandainya masih tetap bersikukuh tidak ingin atau tidak bisa menggunakan shower seperti halnya tetap memilih jongkok pada WC duduk, maka solusi yang saya tawarkan adalah memperkecil ukuran bak mandi anda.  Ini saya dapat dari Bapak Kos saya yang kelewat pelit visioner. Setiap kamar mandi di kosan, dirancang tidak memakai bak mandi tetap, hanya ember ukuran 25 liter yang berfungsi untuk menampung air sementara.

Ini brilian, alam bawah sadar akan merespon air di bak yang secukupnya dengan gerakan gayung yang seefektif mungkin mengguyurkan air ke tubuh. Yang berarti kesimpulannya adalah luasan bak mandi sebanding dengan pengeluaran air setiap kali mandi.

5. Ganti WC Jongkok

Saya masukkan aktivitas buang air besar ke dalam revolusi kamar mandi, karena pada beberapa kasus toilet dan kamar mandi bersatu dalam satu ruangan. Penggunaan WC jongkok yang terbukti lebih sehat dibanding WC duduk, menambah keunggulan selain penggunaan airnya jauh lebih irit. Pada publikasi WaterWise.org.uk, kegiatan yang membutuhkan pasokan air trrbanyak di Inggris adalah flushing pada WC duduk yaitu sebesar 30% dari semua pengeluaran air di rumah, baru setelah itu kegiatan mandi.

Permasalahannya kita tidak bisa menyetelnya sesuai keadaan kotoran kita, apa butuh air banyak atau sedikit seperti di WC jongkok.

B. BUAT KEBIASAAN BARU

Setelah infrastruktur sudah terselenggara dengan benar, maka hal yang selanjutnya adalah mulai membangun kebiasaan-kebiaasan baru di kamar mandi.

1.  Sabun Batang

Berdasarkan pengalaman saya, penggunaan sabun batang dalam mandi ini bisa efektif untuk meningkatkan penghematan baik uang maupun air. Sabun batang lebih cepat larut dalam air daripada sabun cair. Selain itu pola pengemasan dan tekanan terhadap lingkungannya masih lebih baik menggunakan sabun batang.

2. Mandi Bareng

Saya ingatkan, cara ini tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Mandi bareng hanya boleh dilakukan sepanjang mengikuti aturan hukum yang berlaku. Sepasang suami istri yang sah, ibu dengan anaknya, atau kakak dan adek dapat memanfaatkan momen mandi bareng untuk semakin dekat satu sama lain. Yang jelas penggunaan airnya bakal lebih berkurang.

3. Mandi di Saat Yang Tepat

Ketika anda sudah memahami filosofi dari mandi yang sesungguhnya, anda mungkin tidak lagi berfikir untuk mengikuti pakem mandi dua kali sehari. Mandilah di saat yang tepat, supaya kebijaksanaan mandi dapat benar-benar anda petik sekaligus semakin menghemat air.

C. MANDI 2.0

Jika dua aspek dari revolusi kamar mandi ini sudah bisa diterapkan, bagian terakhir adalah bagian penyempurnaan. Seperti kata Stephen Covey dalam 8th Habit, bahwa pencapaian sesungguhnya adalah ketika kita berhasil menang bersama orang lain. Sungguhlah manusia sejatinya adalah makhluk sosial.

Konsep mandi 2.0. adalah berbagi kamar mandi. Membudayakan numpang dan menumpangi mandi yang bertujuan menambah ketahanan kita menghadapi krisis air bersih. Kita yang tidak punya sumur pribadi, yang waktu PDAM tiada mengalir : tidak usah malulah untuk menumpang di rumah teman. Begitu juga sebaliknya. Begitulah ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum tahapan final revolusi ini :

1. Bawa Peralatan Mandi Setiap Saat

Terutama saat kekeringan melanda, kita harus siap untuk membawa peralatan mandi setiap saat. Pilih peralatan mandi yang kompak dan dapat dibawa dalam tas, sehingga setelah kita pulang kuliah atau pulang kerja kita bisa langsung mampir ke rumah rekan kita yang mempunyai kelebihan air. Menumpang mandi sambil mempertebal tali silaturahmi.

2. Siapkan Kamar Mandi Terbaik

Bagi orang jawa, keadaan rumah seseorang itu dilihat dari kamar mandinya. Maka dari itu siapkanlah kamar mandi terbaik yang bersih untuk teman-teman anda yang sewaktu-waktu kekurangan air dan menumpang mandi di tempat anda. Jadilah tuan rumah yang baik dengan tidak lupa menyajikan teh hangat dan gorengan lantas berbincang-bincang dengan tamu anda selepas mandi.

3. Buat Aplikasi

Jaman sekarang apa yang tidak ada aplikasinya? Pesan ojek, pesan makan, bayar listrik, transfer duit, bahkan hingga lapor kemalingan semua ada aplikasinya. Jadi bukankah deru revolusi kamar mandi bakal semakin dekat apabila ada developer yang kurang kerjaan  mulia hatinya membuat aplikasi untuk menunjang mandi 2.0. Mempertemukan kamar mandi yang sedia air banyak dengan para warga yang kekurangan air untuk mandi.

Aih, membayangkan mereka sesama anak manusia yang awalnya tidak saling kenal, dipertemukan dalam pencarian kamar mandi, kemudian berbagi kebahagiaan lantas bercengkrama segarkeadaan sehabis mandi sambil menyeruput teh hangat itu sudah sangat uwauw bagi saya.

Sudahlah cukup tercapai tujuan revolusi kamar mandi kalau saja benar-benar sampai di titik itu. Jika semua warga dapat menggunakan air seefektif mungkin, mampu hidup bersih sembari tetap menjaga lingkungan, mampu tahan menghadapi krisis air yang berat sekalipun dan saling berbagi kebahagiaan yang akhirnya berujung kepada Indonesia yang senantiasa bersih dan segar.

Revolusi Kamar Mandi sungguh sangat diperlukan bung.

***

Di jalan menuju kampus saya mesem-mesem sendiri, saya baru sadar Semarang Kota Tangguh bukan semata-mata karena fasilitas atau kebijakan para pemerintahnya. Jauh lebih dari itu, Semarang menjadi sungguh tangguh karena tiap-tiap warga di kota ini sedemikian lentingnya menghadapi bencana, sedemikian kerasnya mempertahankan hidupnya, hidup yang lebih layak.

Saya merasa bersalah telah menganggap remeh Semarang selama ini.  Saya rasa inilah saat yang tepat untuk mandi: membilas rasa bersalah dan pikiran kotor itu lalu jadi pribadi yang lebih baru. Tapi, tapi ya sudah nanti malam saja lah.

Iklan

3 thoughts on “Revolusi Kamar Mandi”

    1. Haha. Mau gimana lagi tik. Selalu tersedia beragam alasan untuk menunda pengerjaan skripsi.
      Tak kirim ke dosbing dulu lah, naskahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s